Pesan dalam Prespektif Psikologi
Dalam setiap proses komunikasi, pesan adalah bagian terpenting yang harus menjadi perhatian komunikator. Umumnya, pesan terdiri dari isi pesan dan lambang. Bahasa atau pesan paralingusitik adalah lambang yang paling sering dipakai dan memiliki fungsi yang sangat vital dalam komunikasi. Selain bahasa, cara lain yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan pesan adalah dengan isyarat atau pesan ekstralingustik.
Bahasa adalah sekumpulan smbol-simbol, huruf-huruf, atau kata-kata dengan makna yang berubah-ubah. Menurut Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi (2001 : 269) menyatakan bahwa secara fungsional bahasa dapat diartikan sebagai “alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapan ide atau gagasan”.
Bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Sedangkan, secara formal bahasa semua kalimat yang terbayangkan yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa yang meliputi fonologi, sintaktis, dan semantik.
Untuk mampu menggunakan bahasa tertentu kita harus menguasai fonologi, sintaktis dan semantik Menurut George A. Miller, untuk mampu menggunakan bahasa tertentu kita harus menguasai fonologi (bunyi bahasa), sintaktis (cara pembentukan kalimat), leksikal (arti kata atau gabungan kata-kata), konseptual, dan kepercayaan terhadap yang kita dengar. Psikologi fokus pada konseptual serta kepercayaan terhadap apa yang kita dengar. Sebelum kita menyampaikan gagasan kita, penting dilakukan untuk menyamakan kerangka konseptual dan system kepercayan dengan komunikan.
Pesan yang akan kita sampaikan hendaknya memperhatikan hal-hal berikut, yaitu :
- Hati-hati dengan abstraksi, yaitu proses memilih unsur-unsur realitas untuk membedakannya dari hal lain. Abstraksi dapat menyebabkan cara penggunaan bahasa menjadi tidak cermat.
- Perhatikan dimensi waktu karena bahasa bersifat statis dan realitas bersifat dinamis.
- Jangan mengacaukan kata dengan rujukannya. Hal ini karena orang lain belum tentu menggunakan rujukan yang sama.
- Jangan mengacaukan pengamatan dengan kesimpulan.
Selain pesan verbal, pesan non verbal juga turut menunjang penyampaian informasi. Menurut Mark L. Knapp dalam Rakhmat (2000: 287) menyatakan bahwa pesan non verbal memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
- Repetisi atau pengulangan, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disampaikan.
- Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal
- Kontradiksi, yaitu menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal.
- Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan non verbal
- Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal
1. Organisasi Pesan
Organisasi pesan adalah rangkaian penyusunan pesan. Suatu pesan yang baik harus diorganisasikan dengan baik pula. Ada 6 macam organisasi pesan (Rakhmat, 2000 : 295), yaitu :
- Deduktif : gagasan utama – penjelasan – keterangan – kesimpulan – bukti
- Induktif : rincian informasi – kesimpulan
- Kronologis : pesan disusun berdasarkan urutan waktu terjadinya peristiwa
- Logis : pesan disusun berdasarkan urutan waktu terjadinya peristiwa
- Spasial : pesan disusun berdasarkan tempat
- Topikal : pesan disusun berdasarkan topic pembicaraan
Dalam psikologi komunikasi, terdapat 5 langkah dalam penyusunan pesan, yaitu :
- Attention – perhatian
- Need – kebutuhan
- Satisfaction – pemuasan
- Visualization – visualisasi
- Action – tindakan
2. Imbauan pesan
Informasi yang ditujukan untuk mempengaruhi orang lain harus menyentuh motif. Motif tersebut menggerakkan atau mendorong perilaku komunikan. Terdiri atas
- ImbauanRasional, meyakinkan orang lain melalui pendekatan logis atau bukti-bukti.
- Imbauan Emosional, Beberapa pernyataan menggunakan bahasa yang menyentuh emosi komunikan.
- Imbauan Takut, Pesan yang mencemaskan komunikan.
- Imbauan Ganjaran, Rujukan yang memberi janji kepada komunikan untuk melakukan sesuatu yang di inginkan komunikator.
- Imbauan Motivasional, Motif yang bertujuan menyentuh kondisi intern dalam diri manusia
3. Proses Penyampaian Pesan
Komunikasi merupakan proses pengiriman pesan yang dilakukan oleh komunikator kepada komunikan. Kemudian, komunikator sebagai pengirim pesan mendapat rangsangan atau stimulus dari luar dirinya atau atau dari dalam dirinya. Pesan dikemas (encoding) sedemikian rupa sesuai dengan kondisi komunikan agar dapat dipahami. Encoding dapat berbentuk verbal maupun nonverbal. Pesan yang mengalami encoding kemudian dikirimkan melalui media. Lalu, pesan diolah oleh decoder yang bisa berupa mesin atau manusia. Kemudian, setelah pesan di-decoding, pesan dikirimkan kepada komunikan. Komunikan dapat memberikan respon yang disebut dengan feedback.
4. Pembentukan Persepsi
Persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru (Rakhmat, 2001 : 51). Persepsi adalah pernyataan atau pemikiran berdasarkan pengalaman. Pengalaman tersebut bisa tentang obyek, peristiwa, juga hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar