Bentuk Komunikasi
Ilmu komunikasi adalah ilmu terapan. Sadar atau tidak, manusia selalu berkomunikasi dalam setiap aspek kehidupannya. Dalam pengantar ilmu komunikasi, digambarkan secara lebih sederhana mengenai bentuk-bentuk komunikasi yang telah kita kenal selama ini. Namun, bentuk komunikasi yang digambarkan berikut ini tidak merujuk ke sana. Bentuk komunikasi berikut menekankan pada konteks psikologi dalam suatu proses komunikasi.
Hal ini karena berbagai penelitian psikologi dan komunikasi yang telah dilakukan memperlihatkan adanya keterkaitan di antara keduanya. Hal ini merujuk adanya kesamaan pada tiga macam bentuk proses komunikasi dalam konteks kerangka bangunan kognitif manusia. Ketiga bentuk proses komunikasi tersebut adalah :
1. Interaksi Interpersonal Tatap Muka (face to face interpersonal interaction)
Dalam suatu komunikasi interpersonal terjadi pertukaran informasi baik verbal maupun non verbal. Proses pertukaran informasi yang dilakukan melalalui interaksi sosial melalui verbal maupun non verbal telah menjadi fokus penelitian komunikasi sejak tahun 1950. Salah satu ilmuwan yang meneliti mengenai hal ini adalah Adam Kendon (1970) melalui teori adalah interactional synchrony.
Gagasan teori ini adalah bahwa perilaku verbal dan nonverbal yang rumit terikat satu sama lain baik dalam diri individu tersebut maupun individu lainnya. Intinya, kerangka psikologi beserta modelnya telah memungkinkan peneliti komunikasi untuk menghasilkan gambaran yang rinci mengenai dan membentuk suatu prediksi yang lebih spesifik bagaimana manusia melakukan pertukaran informasi baik verbal maupun non verbal dengan manusia yang lain.
2. Interaksi Interpersonal Bermedia
Ketika sekelompok kecil orang berinteraksi satu sama lain secara real time dengan menggunakan berbagai jenis media (misalnya, telepon, komputer, dan video conferencing), terjadi proses interaksi tatap muka. Kemudian interaksi tersebut digabungkan dengan berbagai faktor yang rumit dan unik. Contoh penelitian mengenai hal ini adalah computer-mediated communication (CMC) di mana dua orang menggunakan teknologi berbasis komputer untuk melakukan interaksi. Dasar teori ini adalah face to face communication.
Ketika orang menggunakan media untuk melakukan interaksi interpersonal, mereka menggabungkan proses yang terjadi dalam interaksi interpersonal secara langsung dengan memanfaatkan berbagai macam perangkat teknologi. Dengan demikian, model aditif pengolahan psikologis dapat bekerja sebagai kerangka kerja untuk dapat memahami bentuk komunikasi interpersonal bermedia.
3. Komunikasi massa
Komunikasi massa adalah proses penyebaran informasi yang dilakukan oleh organisasi (surat kabar, film, atau tv) dengan menggunakan teknologi media tertentu. Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, jarak antara organisasi besar dan khalayak yang luas semakin kecil. Kini, semua orang dapat terlibat dalam proses komunikasi massa, misalnya dengan adanya konsep citizen journalism. Teknologi komunikasi telah mengubah cara pandang kita terhadap komunikasi secara umum seperti dialog, diseminasi, dan kombinasi keduanya.
Dari perspektif proses psikologis, salah satu pendekatan komunikasi massa adalah kombinasi antara tatap muka dan interaksi intrepersonal bermedia. Bukti nyata dari fenomena ini adalah lahirnya teori kultivasi yang dicetus oleh George Gerbner. Teori kultivasi sebagaimana telah diuraikan sebelumnya mengilustrasikan aspek-aspek proses psikologi ke dalam komunikasi.
Komunikasi Efektif dalam Psikologi Komunikasi
Apabila individu-individu berinteraksi dan saling mempengaruhi, maka terjadi beberapa hal yaitu proses belajar (meliputi aspek kognitif dan afektif), proses penyampaian serta penerimaan lambang-lambang. Kemudian, adanya mekanisme penyesuaian diri seperti sosialisasi, permainan peranan, identifikasi, proyeksi, agresi, dan lain sebagainya.
Komunikasi berperan dalam membentuk kepribadian kita. Hubungan dengan orang lain akan mempengaruhi kualitas hidup kita. Bila pesan yang kita sampaikan tidak dipahami dengan baik oleh orang lain, maka dapat dikatakan komunikasi yang kita lakukan mengalami kegagalan atau tidak efektif. Stewart L. Tubs dan Sylvia Moss (1974) dalam Rakhmat (2001 : 13) menyatakan bahwa komunikasi yang efektif paling tidak menimbulkan 5 hal, yaitu : pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.
• Pengertian – Penerimaan yang tepat dari konten stimuli seperti yang disampaikan oleh komunikator.
• Kesenangan – Komunikasi yang dilakukan untuk menimbulkan kesenangan atau phatic communication.
• Mempengaruhi sikap – Komunikasi ditujukan untuk mempengaruhi orang lain. Salah satu cara agar kita dapat mempengaruhi sikap orang lain adalah dengan menggunakan komunikasi persuasif. Komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang psikologi komunikator, psikologi pesan, dan psikologi komunikan.
• Hubungan sosial yang baik – Komunikasi bertujuan untuk mempererat hubungan sosial yang baik. Sebagai makhluk sosial, kebutuhan sosial menjadi kebutuhan yang paling utama manusia. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi, pengendalian dan kekuasaan, dan cinta dan kasih sayang (William Schutz, 1966 dalam Rakhmat, 2001 : 14)
• Tindakan – Persuasi ditujukan untuk mengeluarkan tindakan yang diinginkan. Efektivitas komunikasi diukur dari tindakan nyata yang dilakukan oleh komunikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar