Selasa, 21 November 2017

1. Proyeksi adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara pelampiasan keluar sentimen-sentimen dan dorongan-dorongan ke luar dirinya.

2. Represi adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara menekan kembali keinginan-keinginannya.

3. Reaksi Formasi adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara melakukan perbuatan yang sebaliknya atau berlawanan dengan kondisi saat sedang mengalami stress.

4. Regresi adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara mundur pada tahap perkembangan yang sebelumnya.

5. Transkulphasi adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara mengkambing hitamkan orang lain atau menyalahkan orang lain.

6. Fiksasi adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara berdiam diri/stag, tidak mau menyelesaikan masalahnya.

 7. Rasionalisasi adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara memberikan alasan-alasan yang bersifat rasional.

8. Denial adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara menyangkal semua perbuatannya.

9. Displacement adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara mengalihkan perbuatan ke perbuatan yang negatif.

10. Sublimasi adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara melakukan perbuatan yang bersifat positif atau perbuatan sosial.

11. Identification adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara meniru perbuatan orang lain.

12. Compentation adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara menyibukkan diri atau melakukan satu perbuatan/kegiatan.

13. Over Compentation adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara melakukan banyak perbuatan/kegiatan.

14. Fantasi adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara mengkhayal atau membayangkan tentang hal-hal yang belum bisa dicapai.

15. Procastination adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara menunda-nunda pekerjaan.

16. Acting-Out adalah perbuatan untuk mengurangi frustrasi/cemas dengan cara berperilaku yang berlebihan.

Sistem Informasi Psikologi

Sistem Informasi Psikologi adalah suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian.
Contoh nyata dari pengaplikasian SIP dalam kehidupan adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, dalam hal ini umumnya komputer (komputerisasi alat tes psikologi).
Memang antara psikologi dan informasi Teknologi memiliki kaijan objek teoritis dan aspek berbeda mengenai hal apa yang menjadi objek ilmu mereka, namun dalam beberapa hal keberadaan Teknologi Informasi bisa menjadi suatu ilmu yang membantu dalam upaya pengembangan ilmu dan pemaksimalan dalam aplikasi ilmu Psikologi.
E-counseling merupakan salah satu bentuk nyata aplikasi Teknologi Informasi dalam bidang Psikologi. Internet menawarkan suatu proses psikoterapis yang menggunakan suatu media komunikasi yang baru, dimana melalui media tersebut mereka dapat memberikan intervensi psikoterapi itulah yang disebut degan E-counseling atau e-mail counseling. E-mail counseling merupakan pelayanan intervensi psikologi yang dilakukan melalu internet, dimana proses terapi terlebih dahulu dilakukan melalui media ini, untuk kemudian menyusun rencana dalam melakukan intervensi psikologi secara face-to-face akan dilakukan. Fungsi dari e-counseling adalah untuk membantu terapis dalam mengumpulkan sejumlah data yang terkait dengan kliennya sebelum akhirnya terapis dan klien sepakat untuk bertemu secara langsung untuk melakukan proses terapis selanjutnya. Dalam aplikasinya, psikoterapi online menawarkan tantangan etika baru bagi mereka para terapis yang tertarik untuk menggunakan media ini dalam memberikan pelayanan psikologi. Perbedaan antara komunikasi berbasis teks interaktif dan komunikasi verbal in-person menciptakan tantangan etika baru yang sebelumnya tidak ditemui dalam terapi face-to-face.