SOFTSKIL
QONITHA AULIA FADHILAH
18514647
3PA09
QONITHA AULIA FADHILAH
18514647
3PA09
1.
Pengertian Empowerment
Pemberdayaan merupakan suatu konsep yang diadopsi dari kata “empowerment”
. Menurut Webster dan Oxford English Dictionary (Priyono dan
Pranarka, 1996) kata empowerment atau empower mengandung dua
pengertian yaitu; pertama to give power or authority to, kedua to
give ability or enable . Jadi dapat dipahami pengertian pertama sebagai
memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak
lain. Sedangkan pada pengertian kedua dipahami sebagai upaya untuk memberikan
kemampuan atau keberdayaan.
2.
Kunci Efektif Empowerment dalam manajemen
Konsep
pemberdayaan (empowerment), menurut Friedmann muncul karena adanya dua primise
mayor, yaitu “kegagalan” dan “harapan”. Kegagalan yang dimaksud adalah gagalnya
model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan lingkungan
yang berkelanjutan, sedangkan harapan muncul karena adanya
alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi, persamaan
gender, peran antara generasi dan pertumbuhan ekonomi yang memadai. Dengan
dasar pandangan demikian, maka pemberdayaan masyarakat erat kaitannya dengan
peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pada
masyarakat, sehingga pemberdayaan masyarakat amat erat kaitannya dengan
pemantapan, pembudayaan dan pengamalan demokrasi. Selanjutnya Friedmann dalam
Prijono
dan Pranaka (1996) menyatakan bahwa kekuatan aspek sosial ekonomi masyarakat
menjadi akses terhadap dasar-dasar produksi tertentu suatu rumah tangga yaitu
informasi, pengetahuan dan ketrampilan, partisipasi dalam organisasi dan
sumber-sumber keuangan, ada korelasi yang positif, bila ekonomi rumah tangga
tersebut meningkatk aksesnya pada dasar-dasar produksi maka akan meningkat pula
tujuan yang dicapai peningkatan akses rumah tangga terhadap dasar-dasar kekayaan
produktif mereka.
Soetrisno
(1995:139) mengemukakan bahwa paradigma pemberdayaan (empowerment) ingin
mengubah kondisi tersebut dengan cara memberi kesempatan pada kelompok orang
miskin untuk merencanakan dan kemudian melaksanakan program pembangunan yang
juga mereka pilih sendiri. Kelompok orang miskin ini juga diberi kesempatan
untuk mengelola dana pembangunan, baik yang berasal dari pemerintah maupun dari
pihak lain. Kemudian timbul pertanyaan, apa perbedaan antara model pembangunan
partisipatif dengan model pemberdayaan rakyat (empowerment). Perbedaannya
terlihat bahwa dalam model pemberdayaan, rakyat miskin tidak hanya aktif
berpartisipasi dalam proses pemilihan program, perencanaan, dan pelaksanaannya
tetapi mereka juga menguasai dana pelaksanaan program itu. Sementara dalam
model pembangunan yang partisipatif keterlibatan rakyat dalam proses
pembangunan hanya sebatas pada pemilikan, perencanaan dan pelaksanaan, sedangkan
pemerintah tetap menguasai dana guna mendukung pelaksanaan program
tersebut.
3.
Definisi Stres
Siagian (2003 :300) mengemukakan
bahwa stres merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap
emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang.
Sedangkan menurut Hasibuan H. Malayu
S.P (2003), stress adalah
suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi
seseorang. Orang-orang yang mengalami stres menjadi nervous dan
merasakan kekuatiran kronis. Mereka sering menjadi marah-marah,
agresif, tidak dapat relaks atau memperlihatkan sikap yang tidak mengatasinya.
Stres yang terlalu besar dapat
mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya. Karyawan dapat
menanggapi kondisi-kondisi tekanan tersebut secara positif maupun negatif.
Akibatnya, ada konsekuensi yang konstruktif maupun destruktif bagi perusahaan
maupun karyawan. Pengaruh dari konsekuensi tersebut adalah penurunan atau
peningkatan usaha dalam jangka waktu pendek maupun berlangsung dalam jangka
waktu lama.
4.
Sumber Stres
A.
Sumber-sumber stres di dalam diri
seseorang
Terkadang
sumber stress itu ada di dalam diri seseorang. Salahsatunya melalui kesakitan.
Tingkatan stres yang muncul tergantung pada keadaan rasa sakit dan umur
individu (sarafino, 1990)
Stres juga
akan muncul dalam diri seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional
yang melawan, bila seseorang mengalami konflik. Konflik merupakan sumber stress
yang utama. Menurut Teori Kurt Lewin, Kekuatan motivasional yang melawan
menyebabkan dua cenderungan yang melawan : perdekatan dan penghindaran.
Cenderungan tersebut menggolongkan tiga jenis pokok dari konflik :
a. konflik perdekatan /perdekatan
b. konflik penghindaran /penghindaran
c. konflik perdekatan /penghindaran
B.
Sumber-sumber stress di dalam keluarga
Stress ini
dapat bersumber dari interaksi diantara anggota keluarga, seperti :
perselisihan dalam masalah keuangan, perasaaan saling acuh tak acuh,
tujuan-tujuan yang saling berbeda, dll. misalnya : perbedaan keinginan tentang
acara televisi yang akan ditonton, perselisihan antara orang tua dengan anak
yang menyetel tape-nya keras-keras, tinggal di suatu lingkungan yang terlalu
sesak, kehadiran adik baru. Khusus pada penambahan adik baru ini, dapat
menimbulkan perasaan stres terutama pada diri ibu yang selama kehamilan (selain
perasaan senang, tentu), dan setelah kelahiran.
Rasa stress
pada ayah sehubungan dengan adanya anggota baru dalam keluarga, dapat
diterangkan sebagai ke khawatiran akan berubahnya interaksi dengan ibu sebagai
istrinya atau kehawatiran akan bertambahnya biaya.
Para orang
tua yang kehilangan anak-anaknya atau pasangannya karena kematian akan merasa
kehilangan arti (Sarafino, 1990). Dilaporkan bahwa ibu akan menjadi kehilangan
harapan dimasa-masa yang akan datang dan merasa sangat kehilangan. Para ibu
akan merasa kehilangan identitas dan peran sebagai ibu. Demikian pula perasaan
kehilangan karena kematian pasangannya. Mereka yang ditinggalkan akan merasa
kehilangan harapan dan peran, kehilangan rasa cinta, perasaan istimea dan
kehilangan rasa aman. Perasaan kehilangan ini akan semakin terasa terutama pada
masa dewasa awal (Safarino, 1990).
C.
Sumber-sumber stress didalam komunitas dan lingkungan
Interaksi subyek diluar lingkungan
keluarga melengkapi sumber-sumber stress. Contohnya : pengalaman stress
anak-anak di sekolah dan di beberapa kejadian kompetitif, seperti olahraga.
sedangkan beberapa pengalaman stress orang tua bersumber dari pekerjaannya dan
lingkungan yang stressfull sifatnya. Khususnya, 'Occupational stress' telah
diteliti secara luas.
5.
Cara
Mengatas Stres
1. Pola Hidup Teratur
Ø Alokasikan
waktu untuk cukup istirahat dan rutin sekitar 6-8 jam.
Ø Tidak bisa
anda mengganti waktu tidur begitu saja. Katakanlah hari ini tidur 4 jam, lalu
besokdi bayar 12 jam. Penyebabnya tubuh tidak tahu kapan beristirahat, kapan
harus bangun, dan kapan hormone mesti siaga akibat pola tidur yang tidak
teratur.
Ø Makan
seimbang . Di sarankan untuk mengonsumsi makanan rendah karbohidrat dan
kolesterol.
Ø Olahraga dan
rekreasi.
2. Memiliki sikap hidup positif
6.
Definisi Konflik
Konflik berasal dari kata configere (latin)
yang berarti memukul. Secara sosiologis, definisi konflik adalah suatu proses
sosial antara dua orang atau lebih yang saling berusaha untuk menyingkirkan
satu sama lain.
Soerjono
Soekanto memberikan pendapatnya tentang definisi konflik berdasarkan tujuan.
Menurut Soerjono Soekanto, definisi konflik adalah pertentangan untuk berusaha
memenuhi tujuan dengan cara menentang pihak lawan.
7.
Jenis
Konflik
Ø Konflik
kebutuhan individu dengan peran yang dimainkan dalam organisasinya. Tidak
jarang kebutuhan dan keinginan karyawan bertentangan atau tidak sejalan dengan
kebutuhan dan kepentingan organisasi. Hal ini dapat memunculkan konflik.
Ø Konflik
peranan dengan peranan. Setiap karyawan dari organisasi memiliki peran yang
berbeda-beda dan ada kalanya perbedaan peran tiap individu tersebut memunculkan
konflik karena setiap individu berusaha untuk memainkan peran tersebut dengan
sebaik-baiknya.
Ø Konflik
individu dengan individu lainnya. Konflik ini seringkali muncul apabila seorang
individu berinteraksi dengan individu lain, disebabkan oleh latarbelakang, pola
tindak, pola pikir, kepribadian, persepsi, minat dan sejumlah karakteristik
yang berbeda antara satu dengan yang lain.
8.
Proses
Konflik
Menurut Pondi,
Proses terjadinya konflik sebagai berikut.
Ø Konflik Laten
(Latent Conflict)
Konflik
Laten merupakan tahap dari munculnya faktor-faktor penyebab konflik dalam
organisasi. Bentuk-bentuk dasar dari situasi ini ialah persaingan untuk
memperebutkan sumberdaya yang terbatas, konflik peran, persaingan perebutan
posisi di dalam organisasi.
Ø Konflik Yang Dipersepsikan (Perceived
Conflict)
Pada tahap
ini salah satu pihak memandang pihak lain sebagai penghambat atau mengancam
pencapaian tujuannya.
Ø Konflik Yang Dimanifestasikan (Manifest
Conflict)
Pada tahap
ini perilaku tertentu sebagai indikator konflik sudah mulai ditunjukkan,
seperti adanya sabotase, agresi terbuka, konfrontasi, rendahnya kinerja dan
lain sebagainya.
Ø Resolusi Konflik (Conflict
Resolution)
Pada tahap
ini konflik yang terjadi diselesaikan dengan berbagai macam cara dan
pendekatan.
Ø Konflik Aftermath
Jika konflik
sudah benar-benar diselesaikan maka hal itu akan meningkatkan hubungan para
anggota organisasi. Hanya saja jika penyelesaian konflik tidak tepat, maka akan
dapat menimbulkan konflik yang baru.
Menurut Smith, Proses terjadinya konflik
sebagai berikut :
Ø Tahap Antisipasi, yaitu merasakan
munculnya gejala perubahan yang mencurigakan.
Ø Tahap Menyadari, yaitu perbedaan
mulai dieksepsikan dalam bentuk suasana yang tidak mengenakkan.
Ø Tahap pembicaraan, yaitu
pendapat-pendapat berbeda mulai bermunculan.
Ø Tahap Perdebatan Terbuka, yaitu
perbedaan pendapat mulai ditunjukkan dengan nyata dan terbuka.
Ø Tahap Konflik Terbuka, yaitu
masing-masing pihak berusaha memaksakan kehendaknya kepada pihak lain.
9.
Definisi
Komunikasi
Adalah proses
pengiriman (sending) dan penerimaan (receiving) pesan atau berita (informasi)
antara dua individu atau lebih dengan cara yang efektif sehingga pesan yang
dimaksud dapat dipahami.
Agar memahami pengertian
komunikasi, mari bahas secara etimologi. Komunikasi berasal dari communicatio
(latin) yang artinya “pemberitahuan” atau “pertukaran pikiran”.
10.
Hambatan
Dalam Komunikasi
Hambatan
dari Proses Komunikasi
Hambatan
Fisik
Hambatan
Semantik
Cooper,
R.K & Sawaf, A. 2002. Executif EQ (Kecerdasan Emosional Dalam Kepemimpinan
Dan Organisasi). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Clerq, L.D & Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan (Suatu Pendahuluan). Semarang: UNIKA.
Davis, K & Newstrom, J.W. 1985. Perilaku Dalam Organisasi. Erlangga.
Donnelly, G.I.1985. Organisasi (Perilaku, Struktur, Proses). Erlangga.
Clerq, L.D & Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan (Suatu Pendahuluan). Semarang: UNIKA.
Davis, K & Newstrom, J.W. 1985. Perilaku Dalam Organisasi. Erlangga.
Donnelly, G.I.1985. Organisasi (Perilaku, Struktur, Proses). Erlangga.